Langsung ke konten utama

kitab "fathul madjid" (wujud) filsafat #1

                                                Lukisan Basoeki Abdullah "Jika Tuhan Murka."


kupas kitab fathul madjid

kitab fathul madjid adalah kitab karangan dari Syeikh Nawawi bi umar al jawi. beliau dalam kitab ini mengkaji tentang AQIDAH.

dalam kesempatan ini saya akan mengupas tentang sifat wajib ALLAH yang pertama yaitu, WUJUD

1. WUJUD
wujud dalam bahasa indonesia berarti ada. (wujud) dalam sifat ALLAH ada dua arti.

a. ghairu wujud (tidak ada), yang bisa disebut (ha')al (pertengahan antara ada dan tidak ada.
dalam hal ini yang bisa kita pahami adalah ketika kita sudah percaya bahwa tuhan tu nyata adanya. hanya mata kita yang tidak kuat untuk melihat wujud beliau.

b. 'ain wujud, "wujud" tidak merupakan tambahan atas "dzatulwujud" di mana sifat (wujud) itu ada pada kenyataannya seperti "dzat" andaikan penghalang mata dibuka. adanya tuhan itu nyata adanya.
maka pasti kita bisa lihat sifat "wujud" tadi. seperti sifat "ma'ani", sesungguhnya sifat "wujud" merupakan perkara yang bisa diangan-angan dalam hati. bahkan, yang dimaksud "wujud" adalah tidak melirik di luar dhohir tetapi dalam hati.
"wujud" adalah sifat bagi allah dengan dasar bahwa para ulama mendirikaan dalil atas sifat wujud.

andaikan sifat "wujud" itu 'ainuldzat maka para ulama tidak mendirikan dalil.

ada pertanyaan
-apakah wajib bagi orang yang berakal meyakini bahwa wujud  ('ainuldzat) atau tidak meyakini?
jawabanya yaitu sesungguhnya yakin/mantap itu tidak wajib.
sesungguhnya wajib atas wujud adalah mantap, karena wujudnya Allah adalah wajib adanya.
     
       wujudnya ALLAH itu tidak asal dan sebab sama sekali. jadi, ALLAH tidak butuh pada orang yang mewujjudkanNya. Sunggguh wujudnya ALLAH apabila setiap perkara yang ada itu menyaaksikanya maka tidak akan adaa yang ingkar atas apa yang dilihatnya kecuali orang yang dibutakan hatinya, seperti orang kafir dahriyah, kelompok yang ingkar atas wujudnya dzat yang membuat alam.
      (qoola) mereka berkata: perut bisa memberi anak. bumi isa menumbuhkan tanaman, kita rusak atau mati karena masa atau zamaan. dalil atas wujudnya ALLAH adalah adanya alam. alam adalah perkara baru, setiap perkara baru pasti ada yang menciptakannya, maka alam ada yang membuatnya. sesungguhnya, barunya alam merupakan dalil atas wujudnya ALLAH, alam sebelum diciptakan merupakan perkara yang mungki ada dan tidak ada. wujudnya alam sama dengan tidak adanya alam, dan tidak adanya alam ssma dengan alam pada waktu alam itu ada lalu hiilang maka semua kita tahu, bahwa adanya alam itu melebihi tidak adanya alam. sungguh wujud itu sama dengan tidak adanya wujud dan tidak pantas wujud melebihi adam.

     Apa dalil attas barunya alam? sesungguhnya alam adalah anggota dan sifat baru seperti bergerak dan diam. dengan dasar bahwa kita menyaksikan sifat tersebut dengan perubahan dari ada ke tidak ada dan dari tidak ada ke ada. badan kita suatu saat bergerak, saat lain diam. bergerak bisa berubah dengan diam dan diam bisa berubah dengan bergerak.
      maka bisa kita ketahui dari dalil tersebut bahwa sifat itu merupakan perkara baru, dan badan menetapi sifat tersebut karena baan itu tidak sepi dari bergerak dan diam. setiap perkara yang menetapi perkara baru maka perkara itu juga baru. maka sesunggguhnya badan itu merupakan perkara baru.
kesimpulan dalil tersebut adalah. badan menetapi sifat baru. setiap perkara yang menetapi perkara baru maka perkara itu termasuk hal baru. sesungguhnya badan itu perkara baru, barunya badan dan sifat merupakan daliil atas wujudnya ALLAH. Sungguh setiap perkara baru pasti ada Dzat yang membuat baru. Ketika ALLAH bersifat wujud maka mustahil ALLAH bersifat ADAM.


sekian pada kesempatan ini saya akhiri. mungkin ketika ada saran dan kritik mohon tulis dikolom komentar. terima kasih. shalom, namo budhayo, wassalamualaikum, namaste.

Komentar

  1. Tuhan, Allah, Sang nyang widhi, Ra, dll memang penyebutan manusia supaya manusia mudah melogikakan dalam beragama, tapi hakikatnya tan kinoyo nopo diciptakan lalu dilahirkan atas dasar ketidaktahuan apa", lebih baiknya lagi anda menyertakan literasi agar tulisannya tidak cenderung subjektif,

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kitab "fathul madjid" (wahdaniyah) filsafat #6

hancur karena melihat tuhan sifat ALLAH yang keenam yaitu wahdaniyah yang berarti satu. ALLAH bersifat satu didalam dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Arti dari ALLAH bersifat satu di dalam Dzat adalah : Tidak ada yang menyerupai Dzat ALLAH. Dzat ALLAH tidak tersusun dari bagian-bagian itu merupakan sifat-sifat baru dan ALLAH bersih dari sifat sifat baru. Arti ALLAH bersifat satu dalam sifat-Nya adalah: tidak ada seorangpun yang mempunyai sifat, seperti sifat-nya ALLAH. Tidak ada seorangpun yang mempunyai kekuasaan seperti kekuasaannya ALLAH. Begitu seterusnya ALLAH tidak mempunyai 2 sifat yang sama dalam nama dan arti. Seperti dua kekuasaan, 2 kehendak, 2 pengetahuan. tapi ALLAH hanya punya 1 kekuasaan, 1 kehendak, dan 1 pengetahuan. Arti ALLAH bersifat satu dalam perbuatan adalah : semua perbuatan ALLAH tidak ada satupun yang sama dengan perbuatan Makhluk-Nya, baik itu kehendak sendiri ataupun terpaksa. Perbuatan makhluk dengan kehendak sendiri adalah: sebuah pekerjaan, bi...

Kitab "fathul madjid" (kalam) filsafat #13 part 2

(SAMBUNGAN) sifat yang menempati Dzatnya ALLAH itu suci dari hal-hal tersebut. Sifat yang menempati Dzatnya ALLAH itu suci dari hal-hal tersebut. Sifat dahuilu yang menempati Dzatnya ALLAH tidak bisa dipahami dari lafadz lafadz mulia yang juga bisa menunjukkan arti. Sesungguhnya kalam ALLAH menyatu atas dua perkara : Ø   Sifat dahulu yang menempati Dzatnya ALLAH ini dibersihkan ndari permulaan, akhiran, huruf, suara, dan lain-lain. Ø     Lafadz yang diturunkan kepada Nabio kita yang kita sebut AL-QUR’AN. Orang yang bil;ang bahwa surat itu tidak termasuk kalam ALLAH maka orang itu kafir. Kalam ALLAH dengan makna yang akhir itu termasuk perkara bartu yang ALLAH jadikanb dalam Lauhil Mahfud. Juga dijadikan dalil untuk menunjukkan kalam ALLAH yang dahulu yang menempati Dzat ALLAH yang telah bersifatan seperti mnakhluk. Imam ahmad tidak senang mengatakan bahwa ALQUR’AN adalah makhluk karena dikhawatirkan terjadi kesalahpahaman bagi orang yang bertanya tentan...