Ilustrasi lukisan abad pertengahan tentang terjadinya Perang Salib
Kitab "fathul madjid" (qidam)
filsafat #2
qidam (dahulu) berarti tidak ada permukaan atas wujudnya
ALLAH.
Tidak seperti
perkara baru (manusia) yang wujudnya didahului dengan dijadikanya manusia dari
air mani (sperma). Dasar atas dahulunya ALLAH adalah andai ALLAH tidak dahulu,
dan maka ALLAH adalah perkara baru, tidak pertengahan antara Dzat dahulu dan
baru. Setiap perkara yang tidak dahulu pasti baru. Andai ALLAH bersifat baru
maka ALLAH butuh orang yang membaruinya begitu seterusnya maka akan terjadi
tasalsul (lingkaran mata rantai)
Saya umpamakan mobil, karena mobil adalah
alat transportasi manusia yang selalu di perbaharui. Dengan perkembangan zaman,
mobil dievolusi terus menerus oleh manusia agar dapat memberikan sensasi
kenyamanan berkendara. Ketika mobil itu sudah dikatakan jadul, maka akan ada
mobil model baru yang menggantikan. Itupun dengan bantuan tangan manusia.
Jadi mustahil ALLAH bersifat baru.
Apabila sampai pada DZAT yang membuat baru
maka akan terjadi daur sedangkan
tasalsul dan daur itu mustahil (tidak mungkin adanya).
Perkara yanng bisa mendatangkan kepada
perkara yang tidak mungkin maka perkara itu juga tidak mungkin. Kesimpulan dalil
adalah : andai ALLAH itu tidak dahulu maka ALLAH pasti baru.
Andai
ALLAH itu baru maka butuh DZAT yang membuat baru. Lalu terjadi daur dan
tasalsul yang keduanya ini merupakan mustahil bagi ALLAH perkara yang
mendatangkan mustahil maka perkara itu mustahil adanya. Maka ALLAH bersifat
QIDAM.
Ulama terdahulu Syekh
Thahir Al-Jazairi di dalam kitabnya Jawahirul Kalamiyah Fi Idhahil
A’qidah Al-Islamiyyah mengatakan bahwa cara beriman atau meyakini
sifat qidam ALLAH. adalah sebagai berikut.
ان نعتقد ان الله قديم: نعني انه موجود قبل كل شيئ وانه لم يكن معدوما في وقت
من الاوقات وان وجوده ليس له اول.
Kita meyakini bahwa Allah
itu Maha Dahulu, yakni Dia ada sebelum segala sesuatu dan Dia tidak didahului
tidak ada di suatu waktu dari waktu-waktu yang ada, dan wujudNya tidak ada
awalnya.
Berdasarkan keterangan
Syekh Thahir tersebut maka dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Kita
wajib meyakini bahwa ALLAH. memiliki sifat Qadim, yakni ALLAH. ada sudah sejak
dulu.
2. Adanya
ALLAH. itu sebelum segala sesuatu itu ada. Berbeda dengan makhluk yang ada
setelah yang lainnya ada.
3. Adanya
ALLAH. tidak didahului tidak ada. Berbeda dengan makhluk yang adanya didahului
dengan tidak ada.
4. Adanya
ALLAH. itu tidak ada awalnya. Artinya ALLAH. lah yang pertama. Tidak ada yang
mendahuluiNya. Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an:
هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ
وَالْبَاطِنُۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
Hual awwalu wal akhiru
wa dzhohiru wal baatinu wahuwa bi kulli syai'in ‘aliimu.
Dialah Yang Awal, Yang
Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.(Q.S.
Al-Hadid/57: 3)
Cara menyakini ALLAH. Dia
adalah Maha Dahulu, tidak satupun yang mendahuluiNya.
Karena jika ada yang
mendahuluiNya, maka pasti yang mendahului ALLAH itu ada yang mendahuluinya
lagi, begitu seterusnya. Ini yang mungkin selalu dipikiran teman teman ketika
berfikir tentang tuhan. ada tuhan setelah tuhan. setelah tuhan a ada tuhan b
dan seterusnya.
Hal semacam ini mustahil
adanya bagi ALLAH. Dan dengan demikian bisa disimpullkan ALLAH tidak mempunyai
BAPAK dan IBU, karena jika demikian siapa lagi yang menciptakan BAPAK dan IBU
ALLAH. Tentu hal ini sangat mustahil.
sekian pada kesempatan ini
saya akhiri. mungkin ketika ada saran dan kritik mohon tulis dikolom komentar.
terima kasih. shalom, namo budhayo, wassalamualaikum, namaste.

Komentar
Posting Komentar