Langsung ke konten utama

Kitab "fathul madjid" (sama') filsafat #11

slowly honey, collage, 70x70 ipunknaseh

Sifat yang kesebelas adalah sama’ (mendengar) sifat yang ada pada ALLAH yang ada sejak zaman azali, yang  berhubungan dengan perkara yang ada, baik berupa zat dan suara.
ALLAH mendengar zat-Nya dengan sifat pedengaran-Nya, begitu seterusnya. Pendengaran ALLAH itu bisa membuka perkara yang ada. Maka ALLAH bisa mendengar pada setiap suara dan zat.
Dikatakan : bahwa sesungguhnya pendengaran ALLAH dengan suara itu nyata kalau dengan zat itu tidak nyata.
Kita wajib percaya bahwa sifat sama’ itu berhubungan dengan setiap perkara yang wujud, meski kita tidak mengerti.
Sifat sama’ ALLAH tidaklah telinga sebagaimana sama’ yang ada pada makhluknya. Sifat sama’ ALLAH juga tidak ada perkara  baru yang mendatangi-Nya, seperti tuli.
Dalil ALLAH bersifat sama’ ada pada hadits dan Al-Qur’an:
-huwa sami’u bashir
-innakum la tadd’uuna asima wa la ghoiban innakum tad’uuna sami’unqoriban mujiba.
(sesunggunya kamu tiak berdo’a pada dzat tuli dan tidak  ada tapi berdo’a pada dzat yang mendengar, dekat dan mengkabulkan.

Andai ALLAH tidak mendengar maka ALLAH tuli, sifat tuli merupakan suatu kekurangan dan kekurangan merupakan sifat mustahil, ketika ALLAH bersifatan sama’ maka ALLAH mustahil bersifat shamamun.


Sekian pada kesempatan ini saya akhiri. mungkin ketika ada saran dan kritik mohon tulis dikolom komentar. terima kasih. shalom, namo budhayo, wassalamualaikum, namaste.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kitab "fathul madjid" (qiyamuhu binafsihi) filsafat #5

           sifat yang kelima adalah qiyamuhu binafsihi, yang berarti berdiri sendiri tidak membutuhkan tempat dan dzat yang mewujudkanya.           Dasarnya adalah : andai ALLAH itu butuh tempat, maka ALLAH adalah sifat sebagaimana sifat putih yang butuh pada dzat itu juga dikatakan sifat.          ALLAH tidak pantas berupa sifat , karena ALLAH itu bersifatan dengan beberapa sifat, sedang sifat tidak bersifatan dengan beberapa sifat.          Andai ALLAH butuh kepada dzat yang memperbaharuinya, maka terjadilah daur dan tasalsul, keduanya ini mustahil bagi ALLAH. ALLAH wajib berdiri sendiri dan mustahil ALLAH butuh tempat.      ketika berfikir tentang manusia, manusia adalah makhluk yang rapuh sekali dibandingkan dengan planet dan kumpulan galaksi galaksi yang tertata dengan rapi di jagad raya ini.       bahkan ketika ditelisik dari sejar...

Kitab "fathul madjid" (kalam) filsafat #13 part 2

(SAMBUNGAN) sifat yang menempati Dzatnya ALLAH itu suci dari hal-hal tersebut. Sifat yang menempati Dzatnya ALLAH itu suci dari hal-hal tersebut. Sifat dahuilu yang menempati Dzatnya ALLAH tidak bisa dipahami dari lafadz lafadz mulia yang juga bisa menunjukkan arti. Sesungguhnya kalam ALLAH menyatu atas dua perkara : Ø   Sifat dahulu yang menempati Dzatnya ALLAH ini dibersihkan ndari permulaan, akhiran, huruf, suara, dan lain-lain. Ø     Lafadz yang diturunkan kepada Nabio kita yang kita sebut AL-QUR’AN. Orang yang bil;ang bahwa surat itu tidak termasuk kalam ALLAH maka orang itu kafir. Kalam ALLAH dengan makna yang akhir itu termasuk perkara bartu yang ALLAH jadikanb dalam Lauhil Mahfud. Juga dijadikan dalil untuk menunjukkan kalam ALLAH yang dahulu yang menempati Dzat ALLAH yang telah bersifatan seperti mnakhluk. Imam ahmad tidak senang mengatakan bahwa ALQUR’AN adalah makhluk karena dikhawatirkan terjadi kesalahpahaman bagi orang yang bertanya tentan...

kitab "fathul madjid" (wujud) filsafat #1

                                                 Lukisan Basoeki Abdullah "Jika Tuhan Murka." kupas kitab fathul madjid kitab fathul madjid adalah kitab karangan dari Syeikh Nawawi bi umar al jawi. beliau dalam kitab ini mengkaji tentang AQIDAH. dalam kesempatan ini saya akan mengupas tentang sifat wajib ALLAH yang pertama yaitu, WUJUD 1. WUJUD wujud dalam bahasa indonesia berarti ada. (wujud) dalam sifat ALLAH ada dua arti. a. ghairu wujud (tidak ada), yang bisa disebut (ha')al (pertengahan antara ada dan tidak ada. dalam hal ini yang bisa kita pahami adalah ketika kita sudah percaya bahwa tuhan tu nyata adanya. hanya mata kita yang tidak kuat untuk melihat wujud beliau. b. 'ain wujud, "wujud" tidak merupakan tambahan atas "dzatulwujud" di mana sifat (wujud) itu ada pada kenyataannya seperti "dzat" andaikan penghalang mata dibuka. adanya tuhan i...